Reformasi 1998: Satu Momentum Gerakan Sosial

Oleh: Abdul Halim Ali 

Reformasi 1998 tercetus di Malaysia pada 5 September 1998 setelah Anwar Ibrahim dipecat daripada jawatan Timbalan Perdana Menteri pada 3 September tahun yang sama. Setahun sebelumnya gerakan sama meletup di Indonesia yang menuntut reformasi struktur politik-ekonomi di sana untuk maksud menggantikan “3K”- Korupsi, Kronisme dan Nepotisme. 

Terdapat pelbagai perspektif yang menghuraikan menculnya Reformasi 1998. Antaranya ia terjadi dalam rangka kontradiksi antara dua faksi/ pecahan modal. Satu faksi modal mendukung Anwar sementara faksi modal lain menyokong Mahathir. 

Kebiasaannya pergeseran faksi modal besar seperti ini di damaikan negara (state), tetapi dalam hal ini tidak begitu. Maka kontradiksi dua faksi tersebut itu berterusan sehingga faksi yang mendukung Anwar ditundukkan. 

Pemecatan Anwar Ibrahim pada 3 September 1998 

Pada 3 September 1998, Anwar tertohok oleh Mahathir. Lalu, oleh Anwar dua hari kemudian dipalunya genderang perang dengan teriakan tempurnya: Lawan Tetap Lawan. Semangat juang pun membara dan setelah itu memuncak. Maka, perang di isytiharkan. Susunan perang diuruskan dengan garis depan tempurnya ABIM dan PAS yang pada ketika itu dipimpim Fadhil Nor. Para anggota ABIM yang menyertai UMNO sebelum itu memacu gerakan Reformasi september lima itu. 

Hal diatas penting dalam upaya menyusurgalurkan asal muasalnya-genesisnya-gerakan Reformasi Malaysia. Cara begini, mungkin dapat dimengerti lagi tiga hal tentang gerakan itu- konteksnya, sifatnya dan isinya. 

Pada dasarnya, ‘Reform’ bererti perubahan kepada sistem sosial agar menjadi lebih baik sambil membetulkan kesalahan dalam sistem tersebut. Ertinya, tidak termasuk menggantikan sistem seadanya. Antara September 5, 1998 hingga terdaftarnya Parti Keadilan Malaysia pada 1999, Gerakan Reformasi tersebut longgar organisasinya. Tidak jelas matlamat akhirnya. 

Pemersatuan Anwar Ibrahim sebagai sang protagonis sementara Mahathir sang antogonis. Jadi gerakan tersebut dapat dihitung sebagai gerakan populis. Hal ini bermaksud satu gerakan politik yang kecewa dengan parti politik biasa. Maka yang diinginkannya adalah mengembalikan kuasa politik kepada rakyat. 

Tugas utamanya menggerakkan para individu untuk melawan institusi negara (state) atas nama demokrasi. Umumnya, perjuangan populis berkisar pada isu tunggal pada satu-satu masa. Contoh populisme ialah gerakan ‘Jaket Kuning’ (Gilet Jaune) di perancis yang dimulakan 2018 

sampai sekarang. Juga 51 tahun lampau gerakan ‘Kejadian Paris’ pada Mei 1968 di Universiti Paris. 

Theo-Democracy Ala Maududi 

Dari satu sudut, roh ‘Theo-Democracy’ ciptaan ala Maududi ternyata hadir di kalangan para pemula Reformasi 1998 kerana luasnya pengaruh ideologi tersebut sejak pertengahan 1960-an lagi. Maududi memakai kaedah SEL iaitu pembentukan kelompok-kelompok kecil yang fungsinya sebagai bagian daripada organisasi yang lebih besar. 

Infiltrasi atau penyusupan adalah tekniknya yang seringkali dilaksanakan secara rahsia. Begitulah caranya parti Maududi-Jumaat Islam-meninfiltrasi perkhidmatan awam di negeri itu- Pakistan. Ideologi ‘Theo-Democracy’ tersebut adalah gabungan reformasi Islam dengan Demokrasi. Tetapi maknanya berbeza sekali dengan ‘Theocracy’. 

Reformasi 98 sebagai Gerakan Massa 

Keberhasilan upaya gerakan Reformasi 1998 sebagai kuasa gerakan massa jelas dan kerana itu signifikan, malah historic. Para siswa, mahasiswa, anggota perkhidmatan awam, kelas proletar melayu generasi kedua menyertai atau sekurang-kurangnya menjadi simpatisan. Keberjayaannya tiada tandingannya dalam sejarah protes sosial tanah air. Dampak sosialnya, sekalipun terjadi dalam konteks populisme, signifikan. Ia menunjukkan potensi golongan B40 menjadi gerakan massa pada era kini dan mendatang. 

Kelemahan Reformasi 1998 

Namun sebalik kejayaan historik gerakan 5 September 1998 ini, terdapat kekurangannya. Reformasi tidak menggembang dan menjadi matang sebagai cita-cita luhur. Konteks ini tidak diselidiki. Sifatnya terlepas pandang. Substansinya tidak diletakkan dalam skema sejarah, ekonomi dan sosiologi Malaysia. Ringkasnya, cita-cita luhur tidak hadir. 

Menurut penggerak masa pada abad ke-20, dalam sejarah pergerakan begitu, para pemimpinnya sentiasa memiliki pengetahuan dan kebolehan melukiskan cita-cita yang kalau didukung membawa manfaat. Para Nabi, pemimpin dan ahli teori politik, pejuang sosial memiliki kebolehan menggambarkan cita-cita perjuangan. 

Setelah itu, pelukis cita-cita juga perlu memberikan kepada massa satu rasa cita-cita tersebut dapat dicapai. Akhirnya setelah ditanam keyakinan cita-cita itu dapat dicapai, pemimpin tersebut harus juga memiliki kebolehan menggerakkan massa. Reformasi 1998, pada pengamatan saya hanya memiliki hal ketiga. Oleh kerana yang pertama itu tiada- gambar besar cita-cita- maka, hal kedua itu menjadi tidak seberapa. 

Konsep Reformasi tidak disusun, tidak diolah, tidak dilakarkan asas falsafahnya, tidak seperti bagaimana Pancasila dan Marhenisme dilukiskan cita-citanya. Pada 3 Ogos 2003, Parti Rakyat Malaysia menyertainya, lalu menjadi Parti Kedilan Rakyat. Kata ‘Rakyat’ mencerminkan satu aliran pemikiran sosial daripada tradisi politik kiri. Maka bermulalah, pada pengamatan saya, aliran-aliran reformis agama dan kiri disitu. 

Nasionalisme paling mundur dalam kombinasi itu kerana faktor Amerika. Ketidaktenangan menjadi, lalu dilanda arus lintas, atus bawah dan arus balik. Dalam pusaran begitu, kelihatannya aliran tradisi politik kiri ditumpulkan, dimanjalkan pada ketika ini. 

Neo-Liberalisme 

Apakah perintang besar kepada penggembangan idea Reformasi 1998? Apakah situasi politik-ekonomi waktu itu? Persekitaran politik dan ekonomi global dan lokal sewaktu meletupnya reformasi ditandai oleh gelombang globalisasi yang diiringi ideologi neo-liberalisme. Ideologi tersebut dominan dalam demorkasi barat dan juga menjadi acuan sistem kapitalis. 

Ideologi neo-liberalisme di dasarkan institusi pasar dan campur tangan negara minimal sekali. Spektrum/ jangkauannya luas- dari yang menghampiri konservatisme hingga yang mendekati sosialisme. 

Pada permulaan reformasi, gerakan itu mendapat dukungan kuat Naib Presiden Amerika, Al Gore. juga daripada pemimpin Bank Dunia- kedua-duanya pendukung dan jaguh Neo-Liberalisme. Itulah penghalang utama pada waktu itu. Namun, keadaan kini berubah. 

Apabila Parti Keadilan Malaysia terdaftar pada 1999, maka gerakan Reformasi 1998 yang asalnya populis terlembaga menjadi sebahagian parti politik. Ertinya, gerakan tersebut terikat oleh perlembagaan organisasi formal, oleh prinsip organisasi, oleh struktur parti, oleh strategi dan taktik parti. 

Kehadiran elemen-elemen ABIM dan beberapa NGO yang liberal didalam Parti Keadilan menunjukkan parti itu telah lintas batas dari konservatisme kepada liberalisme- mungkin kearah ‘Right of Centre’. 

Kesimpulan 

Pada pendapat saya, elemen-elemen progresif dan patriotik dari golongan Nasionalis, agama dan dari tradisi politik kiri harus digemblengkan daya intelektual masing-masing. Serta upaya sosial dan politik mereka memantapkan konsep Reformasi yang pernah berhasil sebagai daya gerak agar menjadi pedoman yang progresif untuk kini dan mendatang. 

Sesungguhnya, upaya demikian memerlukan pertimbangan falsafah, perhitungan kekhususan sejarah dan sosiologi Malaysia. Persoalannya, dalam konteks ilmu politik, kearah liberal kanan? Liberal kiri? Atau melintas batas kearah demokrasi-sosial? 

Perjuangan sekadar berdasarkan program politik semata, sesungguhnya terbatas jangkauannya sekiranya tanpa teori. 

Abdul Halim Ali
23 Mei 2019
Mimbar Gerakbudaya Petaling Jaya. 



Categories: Abdul Halim Ali, Kolum, Penerbitan

Tags: , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: